Banaran, Juli 2025 — Membaca Al-Qur’an bukanlah sekadar melafalkan huruf-huruf suci dari mushaf. Ia adalah ibadah agung yang menuntut kekhusyukan, ketelitian, serta penghayatan makna. Dalam Surah Al-Muzzammil ayat 4, Allah SWT memerintahkan:
“وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًا”
“Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (QS Al-Muzzammil: 4)
Ayat ini menjadi dasar penting dalam konsep tartil, yakni membaca Al-Qur’an dengan tenang, teratur, dan memperhatikan kaidah tajwid serta adab tilawah.
Makna Tartil Menurut Ulama
Imam Ali bin Abi Thalib RA menjelaskan makna tartil sebagai:
“تَجْوِيْدُ الْحُرُوْفِ وَمَعْرِفَةُ الْوُقُوْفِ”
“Membaguskan bacaan huruf-huruf Al-Qur’an dan mengetahui tempat berhenti (waqaf) dalam bacaan.”
Penjelasan ini dikutip dalam Hidâyatul Qâri ilâ Tajwîdi Kalâmil Bâriy karya ‘Abdul Fattah As-Sayyid ‘Ajami Al-Marsafi. Dari sini dipahami bahwa tartil tidak sekadar aspek teknis bacaan, melainkan juga mencakup ruh dan adab ketika berinteraksi dengan kalamullah.

Potret Santri PPTQ Bani Ali Mursyad: Belajar Tartil Sejak Dini
Di lingkungan PPTQ Bani Ali Mursyad PSM Banaran, semangat tartil telah menjadi tradisi harian. Sejak pagi hingga sore, para santri tekun menyetorkan hafalan Al-Qur’an mereka kepada para ustadz dan ustadzah.
Namun bukan sekadar kuantitas hafalan yang menjadi penilaian. Kualitas bacaan — mulai dari makhraj huruf, hukum tajwid, waqaf-ibtida’, hingga irama yang sesuai adab Qur’ani — menjadi perhatian utama. Suasana setoran dipenuhi keseriusan: para santri duduk bersila, mushaf di tangan, melafalkan ayat-ayat suci dengan penuh ketenangan dan kehati-hatian.
Santri PPTQ Bani Ali Mursyad menyetorkan hafalan dengan bacaan tartil dan penuh adab.
Tiga Keutamaan Membaca Al-Qur’an dengan Tartil
Membaca Al-Qur’an dengan tartil bukan hanya memperindah bacaan, tetapi juga mengandung berbagai keutamaan:
-
Pahala yang Berlipat Ganda
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Dan yang membaca terbata-bata, ia mendapat dua pahala.” (HR Bukhari & Muslim) -
Pemahaman Makna yang Lebih Mendalam
Bacaan yang tartil membantu pembaca menyerap isi dan kandungan ayat, sehingga bukan sekadar lantunan lisan. -
Menjaga Kemurnian Bacaan
Tartil menjaga orisinalitas lafaz sebagaimana diturunkan kepada Rasulullah SAW, serta menghindari kesalahan yang dapat mengubah makna.
Menjadi Pewaris Kalamullah
Melalui kebiasaan membaca dan menghafal dengan tartil, para santri diharapkan tumbuh sebagai generasi pewaris Al-Qur’an — bukan hanya hafal di kepala, tetapi juga tertanam dalam hati dan diamalkan dalam laku hidup.
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
— (HR Bukhari)
Semoga usaha ini menjadi jalan kemuliaan bagi para santri, serta menjadi wasilah tegaknya peradaban Qur’ani di masa depan.
📲 Dokumentasi dan kegiatan lainnya dapat disimak melalui akun resmi:
-
📷 Instagram: @pptqbanialimursyad
-
🎵 TikTok: @pondokbanaran_
-
▶️ YouTube: Pondok Banaran Official
