Pendiri dan Tokoh Penting Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) Takeran, Magetan, Jawa Timur

Latar Belakang & Silsilah
KH. Imam Mursyid Muttaqien adalah putra dari KH. Imam Muttaqien (wafat 1936) dan cucu dari Kyai Hasan Ulama — pendiri pesantren Takeran sekitar tahun 1880/1303 H. Beliau merupakan keturunan spiritual dari Pangeran Diponegoro.
Sejak muda, beliau menempuh pendidikan agama secara tradisional, termasuk menempuh pendidikan di HIS dan MULO, serta memperdalam ilmu hadits. Pada usia sekitar 20 tahun, beliau telah terhubung dengan tarekat Syathariyah.
Modernisasi Pesantren
Pada usia 23 tahun (sekitar tahun 1943), beliau menggantikan ayahnya sebagai pimpinan pesantren.
Pada tanggal 16 September 1943 (9 Syawal 1362 H), beliau mengganti nama “Pesantren Takeran” menjadi Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM). Di bawah kepemimpinannya, pesantren mengalami modernisasi dengan memperkenalkan struktur kelembagaan dan sistem pengelolaan yang lebih tertata. Pendidikan formal dan tradisional diintegrasikan secara terpadu.
Peran Melawan PKI & Akhir Hidup
Saat terjadinya pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, beliau aktif memimpin strategi keamanan pesantren serta memperkuat pendidikan agama sebagai benteng ideologi umat.
Namun, pada tahun 1948, KH. Imam Mursyid Muttaqien menjadi salah satu korban penculikan dan penyerangan oleh PKI bersama 13 kyai dan santri lainnya. Hingga kini, jenazah beliau belum ditemukan.
Warisan & Ruang Lingkup PSM Saat Ini
Visi pesantren yang diwariskan beliau tetap hidup hingga kini, yaitu:
-
Berilmu, Beramal & Bertaqwa
-
Ruhul Islam wal Wathon (Semangat Keislaman dan Kebangsaan)
Warisan beliau meliputi fondasi pendidikan religius dan nasionalis yang kuat, struktur kelembagaan yang mapan, serta jaringan pesantren yang luas di berbagai daerah.
