“Belajar Budaya dengan Cara Kreatif: Membuat Wayang dari Kardus”

(Oleh Tri Wulandari, S.Pd)

Wayang adalah kesenian tradisional yang menampilkan lakon-lakon tertentu menggunakan alat pewayang (wayangan/bayangan). Supaya siswa siswi MTs Bani Ali Mursyad lebih mengetahui budaya Indonesia, maka guru memperkenalkan wayang dari kardus. Wayang kardus merupakan media yang terbuat dari kertas kardus tebal. Media wayang kertas baik digunakan sebagai alat permainan di dalam pembelajaran karena mampu membantu siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Penggunaan media pembelajaran wayang dengan kertas kardus memiliki dampak yang signifikan yakni siswa lebih antusias dan lebih tertarik terhadap materi yang disampaikan oleh guru. Media wayang kardus merupakan salah satu terobosan media pembelajaran baru, yang dapat menarik perhatian siswa dalam proses belajar sehingga siswa dapat lebih bersemangat dan termotivasi. Desain bentuk serta warna yang menarik akan dapat menarik perhatian siswa untuk memainkan dan mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media ini. Pemilihan warna disesuaikan dengan karakteristik anak, sehingga siswa lebih mudah memahami makna atau pesan yang ingin disampaikan melalui media. Melalui warna siswa akan lebih mudah dalam mengingat tokoh serta karakter dari tokoh yang ada pada media wayang. Selain pemilihan warna, bentuk-bentuk tokoh dalam wayang juga akan dapat meningkatkan motivasi dan semanagat belajar siswa.

Wayang merupakan bagian penting dari budaya Nusantara, khususnya di Jawa dan Bali. Selain sebagai media hiburan tradisional, wayang juga menjadi sarana pendidikan moral, budaya, dan cerita kepahlawanan. Inilah yang membuatnya ideal dijadikan bahan prakarya bagi anak-anak, terutama di lingkungan sekolah. Menggunakan tokoh wayang sebagai objek prakarya akan memperkenalkan anak pada budaya lokal sejak dini. Mereka bisa mengenal tokoh-tokoh seperti Arjuna, Bima, Semar, atau Rahwana secara visual dan kontekstual. Anak juga dilatih untuk memahami alur cerita sederhana melalui penggambaran karakter.

Dari sisi keterampilan, membuat wayang menggabungkan berbagai teknik seni dan kerajinan tangan seperti menggambar, menggunting, melipat, dan menempel. Kegiatan ini merangsang koordinasi motorik halus dan kreativitas anak. Anak-anak juga belajar menyusun narasi atau dialog singkat jika prakarya ini dikembangkan menjadi pertunjukan mini. Bahan yang digunakan seperti kardus bekas dan kertas daur ulang sangat terjangkau dan mudah ditemukan. Dengan pendekatan ini, kegiatan prakarya wayang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mendidik dan ekonomis.

Beberapa hal yang menjadi nilai filosofi pada wayang mencakup antara lain:

  1. Etika

Mengutip tulisan Paskalis Ronaldo dalam Jurnal Ilmu Budaya (Vol. 10, No.1, 2023), filosofi berupa etika kerap dilihat dari tokoh wayang yang dipentaskan. Hal yang dilakukan, dikatakan, maupun hal-hal yang berkaitan dengan etika lainnya, bisa dijadikan contoh dalam berkehidupan.

  1. Budaya

Merujuk sumber informasi serupa, budaya juga sering disampaikan lewat penokohan yang ada di wayang. Selain menunjukkan penampilan yang menghibur, wayang juga memperkenalkan budaya kepada yang belum tahu.

  1. Religiusitas

Disebut pula sebagai aspek keagamaan, wayang kerap digunakan sebagai media dakwah atau ceramah. Contoh peristiwa yang mengandung filosofis ini adalah kisah para Wali Songo.

  1. Pedoman Hidup

Nilai filosofis pada wayang yang terakhir adalah pedoman hidup, di mana tokoh biasanya menjalani cerita sesuai rekaan dalang. Pembawa cerita biasanya menunjukkan cara atau pedoman hidup lewat tokoh itu.

Subscribe Youtube MTs Bani Ali Mursyad PSM Banaran: https://youtube.com/@mtsbanialimursyad?si=UAuXmeTBqzfJWugb

Follow Media Sosial Kami :

IG : https://www.instagram.com/mtsbanialimursyad?igsh=M3JoeHF2Znd1eHA=

FB: https://www.facebook.com/share/1AgSUFUKNF/

TikTok : https://www.tiktok.com/@mtsbanialimursyad?_t=ZS-8yEDOSyr0rd&_r=1

📱Info Admin PPDB
http://wa.me/+6282331588331 (Bu Narsiyah, S.Pd)

Atau klik link di bawah ini:
https://taplink.cc/ppdb_ypipsmbanaran

Scroll to Top